Tragedi Gerbong Maut Di balik Museum Stasiun Kereta Api Bondowoso

Tragedi Gerbong Maut Di balik Museum Stasiun Kereta Api Bondowoso

Sejak pertama dikenal Bondowoso memiliki banyak nilai historis dan selalu terjaga untuk kelestarinnya tidak melupakan sejarah yang ada. Bondowoso Stasiun adalah tempat yang memegang banyak memori. Stasiun ini dibuka pada tanggal 1 Oktober tahun 1897, ketika Belanda masih menjajah Indonesia. Stasiun ini juga merupakan bagian dari Daerah Operasional Jember IX. Saat ini, stasiun Bondowoso ditutup pada tahun 2004 dan berubah menjadi museum pada 17 Agustus 2016, bertepatan dengan perayaan kemerdekaan Indonesia adalah 71 dan ulang tahun Bondowoso ke 197. Museum of stasiun itu sendiri hanya ada tiga dari Indonesia, yang terletak masing-masing di Ambarawa, Sawahlunto dan tentu saja Bondowoso.

Bondowoso memiliki sejarah gelap ketika masa penjajahan Belanda bahwa kematian peristiwa. Untuk mengingat acara, sebuah monumen dibangun mobil dan museum kematian stasiun Bondowoso yang menjadi ikon dari Bondowoso. Stasiun ini menjadi saksi bisu kekejaman pemerintah kolonial Belanda terhadap 100 tahanan dari pejuang Belanda dan menewaskan 46 dari mereka. Kisah Mobil kematiannya digelar November 1947. 23 Ini dimulai ketika tahanan adalah pejuang Indonesia akan dipindahkan dari penjara Bondowoso menggunakan kereta ke Surabaya. Gerobak yang digunakan dalam mobil yang tertutup. Tidak ada ventilasi dan seng begitu panas. Tragedi gerobak kematian menjadi sejarah yang sulit untuk melupakan.

Station Museum Bondowoso kereta api Kademangan, 3 km dari pusat kota Bondowoso. akses sangat mudah. Oh ya, untuk masuk ke museum ini tidak perlu mengeluarkan uang, baik untuk parkir dan tiket masuk gratis. Pengunjung hanya perlu mendaftar satu buku tamu. Memasuki museum, suasana stasiun kereta api di zaman kuno tebal sekali di awal pintu masuk besar dan besi yang indah.

Di ruangan ada koleksi besar potongan-potongan museum ditampilkan. Di antara mereka, peralatan yang digunakan ketika stasiun masih bekerja sebagai mesin cetak, peluit, lampu Edmonson, HANSEN, ponsel, topi, dan kereta api miniatur lokomotif. Selain itu, ada juga gambar yang ditampilkan sedemikin untuk menarik pengunjung bernostalgia dengan cerita dari stasiun Bondowoso dibangun pada zaman Belanda yang terus beroperasi untuk melayani masyarakat yang akan dikonversi menjadi museum. Hal ini sangat menarik bahwa tragedi gambar kronologi Mobil Death sangat sedih, ditunjukkan dengan taplak meja tetapi informasi bagi pengunjung ke museum.

Saat ini, Museum Kereta Api Bondowoso menjadi salah satu warisan budaya dilindungi dan menjadi tur pendidikan alternatif perjuangan di balik pemerintahan kolonial Belanda. Pengunjung akan banyak yang dilayani oleh informasi di kereta ke era kolonial dan peralatan yang sangat khas dan tidak lagi dapat digunakan oleh sebagian besar stasiun. fasilitas stasiun juga sangat lengkap, pengunjung akan segera merasa nostalgia dengan suasana museum ini masih sangat dijaga keaslinnya sejak zaman kolonial Belanda. Tentu saja, gaya museum ini memiliki campuran gaya Barat.

Dalam Railway Museum Bondowoso ada dua rel dan kereta yang sengaja ditempatkan di atas rel. Tempat ini telah menjadi gambar dari tempat yang paling sering digunakan oleh pengunjung. Saat ini, meskipun hanya tinggal kenangan, Museum stasiun Bondowoso terus meningkatkan sehingga generasi muda semakin tertarik untuk mengunjungi museum ini sehingga mereka tidak lagi menganggap museum adalah hal yang lama.

No comments for "Tragedi Gerbong Maut Di balik Museum Stasiun Kereta Api Bondowoso"

Berlangganan via Email